Sabtu, 09 Juli 2016

Takdir dan Nasib

Apa itu takdir? dan apa pula itu nasib? apa arti kedua kata itu dalam benakmu?

Kalau coba menengok KBBI, dua kata tersebut secara berturut-turut memiliki arti "ketetapan Tuhan; Ketentuan Tuhan; nasib" dan "sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan atas diri seseorang; takdir". Keduanya tidak jauh berbeda. Bahkan dalam kedua definisi tersebut keduanya saling mendefinisikan, atau dalam kata lain, memiliki arti yang sama.

Lain hal dengan perkataan orang-orang di sekelilingku, yang membuat definisi "takdir" dan "nasib" versi mereka sendiri. Secara garis besar, takdir mereka definisikan sebagai hal-hal yang bersifat pasti, tidak terelakkan, tak dapat diubah, yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk umat manusia. Hal-hal yang paling sering dikategorikan sebagai takdir adalah kelahiran dan kematian. Sedangkan nasib adalah versi "lunak" dari takdir, saat hal-hal yang telah ditentukan Tuhan (entah kenapa) dapat sedikit banyak diubah. Jodoh dan kekayaan adalah dua hal yang sering dijuluki dengan nasib.

Pada dasarnya, aku tidak percaya dengan konsep "takdir" maupun "nasib". Aku tidak ingin berdebat tentang Tuhan di sini, namun bagaimana kau bisa mengatakan sesuatu benar takdir atau nasib (yang seharusnya telah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan) jika kau hanya bisa mengetahuinya setelah hal tersebut terjadi? Seperti halnya saat seseorang meninggal, dan beberapa orang mengatakan "memang sudah ajal (takdir kematian)" bagaimana mereka tahu itu adalah benar takdirnya sedangkan mereka tidak tahu apapun mengenai kematian tersebut di waktu sebelumnya? bagaimana mereka memastikan jika Tuhan memang sudah merencanakan kematian tersebut?

Lagipula, bagiku setiap kejadian adalah hal yang begitu rumit dan unik, dan tak akan terjadi lagi untuk kedua kali dan seterusnya secara persis, dan amat naif menurutku jika mengatakan setiap hal sudah "diatur olehNya". Aku sebut rumit, karena setiap peristiwa adalah pertemuan dari peristiwa-peristiwa lain. Misalnya dalam hal kematian, jika kematian tersebut disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, terdapat berbagai peristiwa kecil yang mungkin menyebabkan hal tersebut, mungkin dari sisi pengemudi yang lalai, kondisi jalan yang tidak baik, pengaturan lalu lintas yang tidak memadahi, dan lain-lain. Bahkan faktor-faktor tersebut, memiliki faktor-faktor penyebab lagi di baliknya, dan begitu seterusnya. Dan sadarkah engkau, bahwa dengan ini si "takdir" dan "nasib" (dengan definisi masyarakat sekitarku) pasti bertemu? ya, si "tak akan berubah" dan "masih bisa berubah" pasti bertemu dalam pusaran peristiwa yang begitu kompleks. Si kematian yang merupakan takdir, mungkin disebabkan oleh salah satu nasib orang lain, misalnya nasib dari si pembuat jalan yang terlahir miskin dan dengan terpaksa menjadi pekerja, lalu melakukan pekerjaan dengan tidak sungguh-sungguh dan menghasilkan kualitas jalan yang buruk. Kelahiran pun juga begitu. Jika ayahku dan ibuku memililih untuk tidak menjalin tali pernikahan di antara mereka, akankah aku terlahir? bagaimana serpihan nasib-nasib itu menyusun takdirku?

Yah, entahlah. Mungkin cara pikirku yang tidak akan pernah sampai menyentuh cara kerja Tuhan. Atau mungkin, aku terlalu berprasangka baik pada Tuhan, ya?